Sistem Pencernaan Hewan Memamah Biak

Nama     : Shafa Riandani

Kelas.     : XI MIPA

Mapel.   : Biologi

Tanggal : Rabu, 2 Juni 2021


Tugas :

1. Uraikan dengan gambar dan uraian sistem pencernaan pada hewan memamah biak 







Hewan memamah biak (ruminansia) adalah hewan herbivora memamah atau mengunyah makanannya sebanyak dua fase. Contohnya sapi, kambing dan kerbau. Makanan hewan memamah biak berupa rumput atau tumbuhan. Sel tumbuhan tersusun dari bahan selulosa yang sulit dicerna. Oleh karena jenis makanan tersebut, hewan memamah biak mempunyai sistem pencernaan dengan struktur khusus yang berbeda dengan hewan karnivora dan omnivora.


Rongga mulut. Gigi yang terdapat dalam rongga mulut ruminansisa berbeda dengan mamalia lain dalam hal berikut: (1) gigi seri mempunyai bentuk yang sesuai untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperti rumput; (2) gigi taring tidak berkembang; dan (3) gigi geraham belakang berbentuk datar dan lebar. Pada rongga mulut terjadi pencernaan makanan secara mekanik.


Kerongkongan (Esofagus). Esofagus merupakan saluran penghubung antara rongga mulut dengan lambung. Di sini tidak terjadi proses pencernaan. Esofagus pada sapi sangat pendek dan lebar, serta lebih mampu membesar (berdilatasi).


Lambung. Lambung ruminansia terdiri atas empat ruangan, yaitu: rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut buku) dan abomasum (perut masam).undefinedMakanan dari esofagus, masuk ke rumen. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri anaerob dan flagellata tertentu. Kemudian dari rumen, makanan menuju retikulum dan diretikulum makanan dibentuk menjadi bolus. Bolus akan kembali lagi ke mulut saat sapi beristirahat kemudian dikunyah lagi. Selanjutnya dari mulut makanan melalui esofagus masuk ke omasum, dan selanjutnya ke abomasum. Pada abomasum terjadi pencernaan enzimatis yang dibantu oleh enzim yang diproduksi oleh dinding lambung.


Dari abomasum, makanan menuju usus halus yang mana terjadi pencernaan enzimatis, kemudian menuju usus besar, dan terakhir ke anus.


A. Pencernaan Secara Mekanis


            Pencernaan secara mekanis dilakukan di dalam mulut, HPT yang telah direnggut dikunyah didalam mulut kemudian di telan, setelah istirahat dikeluarin kembali dan dikunyah lebih halus, hal ini disebut memamah biak. Pengunyahan di dalam mulut bercampur dengan saliva (air liur) untuk membantu proses pengunyahan dan menelan makanan.   Saliva memiliki pH sekitar 8,2 dan dengan kandungan sodium bikarbonat yang tinggi.  Saliva berfunsi sebagai buffer yang membantu menetralkan pengaruh asam dari pakan yang dikonsumsi ternak  setelah masuk ke dalam rumen.


B.  Pencernaan pada Rumen


            Rumen disebut juga perut besar karena merupakan bagian lambung terbesar di dalam sistem pencernaan ternak ruminansia.  Permukaan rumen dilapisi oleh papilia. Rumen berfungsi sebagai tempat fermentasi oleh mikroba, tempat absorbsi VFA dan tempat pencampuran pakan. Rumen sapi memiliki berbagai jenis bakteri yang berbeda dengan jumlah yang sangat banyak dan beberapa tipe protozoa yang membantu memanfaatkan serat dari bahan pakan dan sumber Nitrogen non protein. Rumen pada ternak ruminansia memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan dengan lambung yang lainnya.  pH ideal dalam rumen adalah 6-7, pada pH tersebut mikroorganisme akan tumbuh dengan baik.  Jika pH rumen sering terjadi perubahan diluar pH 6-7 maka sebagian dari jenis mikroorganisme akan mati sehingga mengurangi pemanfaatan pakan yang di proses di dalam rumen.  Pemberian konsentrat dengan persentase yang tinggi dapat meningkatkan performa ternak dalam jangka waktu yang pendek namun pemberian konsentrat dengan persentase yang tinggi dapat menyebabkan asidosis.  Jika produksi VFA dan asam laktat tinggi dan melebihi kapasitas absorbsinya dan kemampuan menuju gastro intestinal maka akan terjadi asidosis.


Bakteri menghasilkan enzim untuk menguraikan makanan sehingga membantu ternak memanfaatkan nutrisi yang ada di dalam pakan.  Lingkungan bakteri harus memiliki kondisi pH maupun suhu yang sesuai dengan pertumbuhannya. Fermentasi dalam rumen terjadi konversi karbohidrat menjadi volatile fatty acids (VFA) dan gas serta menkonversi selulosa menjadi energi.  Produksi gas di dalam rumen terdiri dari methan dan karbondioksida yang berjumlah 20-40% (DeLaval, 2002). Jika gas menumpuk dalam rumen akan dikeluarkan melalui sendawa. 


C.  Pencernaan pada Retikulum


Retikulum disebut juga perut jala karena permukaan bagian dalamnya mirip dengan jala atau sarang lebah.   Rumen dengan retikulum hampir tidak berjarak. Retikulum juga membantu regurgitasi (ruminasi).  Retikulum berfungsi sebagai tempat fermentasi pakan oleh mikroorganisme.  Hasil fermentasi retikulum diantaranya adalah VFA, amonia dan air. Bahan pakan yang difermentasi terutama VFA, amonia dan air pada retikulum mulai diabsorbsi.


D.  Pencernaan pada Omasum


Omasum adalah lambung ketiga dari ternak ruminansia.  Omasum disebut perut buku karena memiliki lipatan-lipatan seperti buku berupa lipatan-lipatan logitudinal.  Pencernaan pada omasum masih terjadi fermentasi mikroorganisme.  Omasum berfungsi sebagai pengatur arus ingesta ke abomasum dan menyaring partikel yang besar.  Terjadi penyerapan air yang terkandung di dalam hijauan pakan ternak oleh dinding omasum, di dalam omasum enzim bekerja menghaluskan hijauan.


E.  Pencernaan pada Abomasum


Abomasum terbagi atas tiga bagian yaitu : florika yang merupakan sekresi mukus, fundika (sekresi pepsinogen, renin dan mukus) dan Kardia yang merupakan sekresi mukus.  Abomasum tempat permulaan pencernaan protein dan mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum.  Pakan di abomasum akan dicerna kembali dengan bantuan asam klorida dan berbagai enzim.  Asam klorida membantu mengaktifkan enzim pepsinogen melakukan pencernaan.


F.  Pencernaan pada Usus Halus


Setelah selesai pencernakan pakan di abomasum maka akan dilanjutkan ke usus halus.  Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum dan ileum. Dodenum kondisinya asam sehingga bakteri dari lambung tidak bisa hidup di duodenum.  Kondisi asam akibat dari percampuran asam dari abomasum, getah pankereas, hati, kantung empedu dan kelenjar dari usus halus.  kemudian makanan akan mengalami pencernaan dengan bantuan enzim yang dihasilkan dari dinding usus. Makanan pada tahap ini partikelnya lebih halus.  Setelah itu makanan berlanjut pada ileum, ileum memiliki banyak vili yang berfungsi memperluas bagian penyerapan sehingga penyerapan akan lebih optimal.


G.  Pencernaan pada Usus Besar


            Usus besar kususnya caecum dan kolon, Sisa-sisa dari pencernaan sebelumnya didorong dengan peristaltik usus ke usus besar.  Sisa-sisa dari pencernaan sebelumnya masih mengandung mineral dan air. Penyerapan mineral dan air paling banyak di usus besar, penyerapan terjadi melalui dinding usus.  Zat-zat yang diserap akan didistribusikan ke seluruh tubuh yang membutuhkan, sedangkan sisa atau ampas dari penyerapan  akan dikeluarkan melalui rektum.


PS :

Penjelasan singkat tertera digambar

Sekian terimakasih, apabila ada kekurangan mohon dimaafkan.


Komentar